BERBAGI

Jakarta – Pernikahan Pengaran Harry dan Meghan Markle tinggal menghitung jam. Kebutuhan untuk membuat acara pernikahan yang menjadi sorotan dunia diperkirakan mencapai £ 32 juta atau Rp 610 miliar (kurs Rp 19.000) oleh layanan perencanaan pernikahan Bridebook.

Ada uang pajak yang digunakan dalam perhelatan akbar tersebut. Uang hasil pajak dari masyarakat tersebut digunakan untuk biaya keamanan yang diperkirakan lebih dari £ 30 juta atau Rp 571 miliar.

Biaya keamanan untuk pernikahan Pangeran William dengan Kate Middleton pada tahun 2011 menelan biaya £ 6,35 juta atau Rp 121 miliar. Ini termasuk £ 2,8 juta atau Rp 53 miliar biaya lembur polisi dan mencakup sekitar 5.000 polisi tambahan yang bertugas pada hari itu.

Informasi yang dirilis sebelumnya mengungkapkan total biaya operasi keamanan yang dilakukan oleh Polisi Metropolitan lebih dekat ke £ 7,2 juta atau Rp 137 miliar.

Namun, biaya sebenarnya dari semua keamanan yang dituntut oleh pernikahan diperkirakan antara £ 10 juta dan £ 20 juta atau Rp 381 miliar, yang akan mencakup peningkatan aktivitas anti terorisme menjelang acara tersebut.

Kali ini, terlepas dari fakta bahwa pernikahan itu tidak diadakan di London, perkiraan biaya lebih tinggi karena tingkat ancaman yang meningkat di Inggris, setelah serentetan serangan selama 18 bulan terakhir, serta risiko yang timbul dari hubungan Pangeran Harry dengan militer Inggris.

Faktor lain yang membebani biaya pernikahan adalah rencana bagi lebih dari 2.000 masyarakat untuk menghadiri perayaan di Istana Windsor.

Biaya keamanan perlu diperhatikan, karena itu adalah tagihan yang akan dibayarkan oleh pembayar pajak.

“The Royal Wedding adalah momen yang menyenangkan di Inggris. Sementara pengantin dan para tamu yang keluar dari Windsor harus merasa aman dengan perayaan umum, semua upaya harus dilakukan untuk memastikan bahwa biaya keamanan dijaga seminimal mungkin,” kata Analis Kebijakan Duncan Simpson seperti dikutip dari Independent.co.uk, Sabtu (19/5/2018).

Keluarga Kerajaan akan membayar sisa pernikahan dari dana mereka sendiri. Namun, karena mereka juga menerima dana dari publik itu membuatnya lebih sulit untuk menghitung berapa banyak uang yang dihabiskan untuk pernikahan berasal dari para pembayar pajak.

Sementara itu, menurut data dari Euromonitor, pernikahan itu tidak mungkin menghasilkan peningkatan belanja wisatawan, meskipun diharapkan dengan pernikahan ini mampu mendongkrak citra Inggris.

“Cakupan media yang diharapkan akan memainkan bagian penting dalam membangun merek dari Inggris,” ujar Alexander Goransson, seorang konsultan.