BERBAGI

HANOI, – Pemerintah Vietnam tengah menyusun rancangan undang-undang (RUU) baru yang mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan menawarkan tarif pajak yang lebih rendah bagi UMKM yang memenuhi syarat.

Pakar industri -yang tidak disebutkan identitasnya- mengatakan dalam RUU tersebut tidak dijelaskan rincian mengenai besaran pengurangan tarif pajak terhadap pajak penghasilan yang berlaku saat ini. Meski pemotongan pajak akan mengurangi pendapatan APBN, hal itu akan berujung pada pertumbuhan bisnis kecil baru yang akan mengimbangi pendapatan pajak yang lebih rendah.

“Diperkirakan tarif pajak untuk usaha menengah akan diturunkan menjadi 1%, untuk usaha kecil 2% dan untuk usaha mikro 3%. Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tarif pajak perusahaan yang berlaku saat ini,” ungkapnya, Rabu (7/6).

Pemotongan tarif pajak hanya berlaku untuk entitas yang menerima profit dan diperkirakan terdapat sekitar 301.300 unit atau sekitar 49,4% dari total perusahaan yang sedang beroperasi di Vietnam saat ini. Dari jumlah tersebut, 4.160 merupakan usaha menengah, 116.920 usaha kecil dan 173.271 usaha mikro.

Rencana pemangkasan pajak untuk UMKM diperkirakan akan mengurangi pendapatan APBN sekitar VND1,9 triliun atau sekitar Rp1,1 triliun, yang mencakup VND103 miliar atau Rp60,2 miliar untuk usaha menengah, VND1,3 triliun  atau Rp768 miliar untuk usaha kecil dan VND502 miliar atau Rp293 miliar untuk usaha mikro.

Selain itu, seperti dilansir dalam vietnam-briefing.com, RUU tersebut juga menghapuskan ketentuan yang mendorong perbankan untuk memberikan pinjaman sesuai dengan solvabilitas UMKM dan kesehatan keuangan bank.

“UMKM telah menjadi pendorong utama pertumbuhan sosio-ekonomi negara. Mereka menyumbang hampir 98% dari semua perusahaan operasi di Vietnam dan mempekerjakan sekitar 80% dari total angkatan kerja. Tahun lalu, UMKM menyumbang 43,2% dari PDB,” tuturnya.

Pemerintah Vietnam berharap agar peraturan dan perubahan peraturan akan mendorong dan membantu UMKM untuk mengintegrasikan diri lebih jauh ke dalam rantai pasokan global, yang memungkinkan akses lebih mudah terhadap pinjaman bank dan investasi asing. (Amu)