BERBAGI

Jakarta – Mobil-mobil mewah dalam sepekan terakhir menjadi sorotan. Hal itu disebabkan oleh kenaikan pajak impor barang dimana mobil mewah termasuk di dalamnya.

Pabrikan mobil yang berniat mendatangkan mobilnya dari negara luar harus siap membayar pajak sebesar 195 persen. Pajak itu juga dibebankan kepada konsumen sehingga ketika akan membeli mobil sehingga harganya naik.

Peminat mobil mewah sendiri memang tidak banyak. Hanya dari kalangan tertentu saja yang berduit. Sehingga dengan dinaikkannya pajak ini tidak akan terlalu berpengaruh banyak terhadap penjualan mobil di Indonesia.

“Orang kalau udah bisa beli mobil mewah kan berarti dia udah punya duit nggak mikirin itu (pajak), jadi kalau pajak naik ya nggak apa-apa barangkali dia malah bangga,” tutur Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto saat dihubungi detikOto beberapa waktu lalu.

“Bagus juga buat pemerintah narik pajak dari orang-orang kaya,” lanjut Jongkie.

Seperti diketahui pemerintah sudah memutuskan untuk menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 atau pajak impor terhadap 1.147 komoditas.

Dari 1.147 barang yang disesuaikan pajak impornya dibagi menjadi 3 bagian. Untuk 210 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 7,5% menjadi 10%. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil CBU (Completely Built-up) dan motor besar.

Untuk kategori tersebut juga terkena tambahan pajak penjualan barang mewah (PPnBM), sebab dari mobil CBU termasuk di dalamnya mobil-mobil mewah.

Mobil mewah memang masuk dalam instrumen tambahan kebijakan pengendalian impor barang konsumsi PPnBM yang berkisar sebesar 10%-125%. Selain itu juga terdapat bea masuk 50% dan PPN sebesar 10%.