BERBAGI

WELLINGTON – Studi Universitas Oxford mengungkap pengenaan pajak pada daging konsumsi akan menjadi langkah terbaik untuk menjaga keberlangsungan hidup hingga 2050.

Pimpinan Studi Universitas Oxford Marco Springmann mengatakan pajak daging bisa diberlakukan karena produksi makanan akan meningkat hampir dua kali lipat pada 2050, bahkan semakin banyak negara yang terbebas dari jeratan kemiskinan.

“Pemerintah perlu menerapkan berbagai upaya untuk mengubah pola diet masyarakat dengan memajaki daging,” tutur Marco, seperti dikutip pada Kamis (11/10/2018).

Dalam studi tersebut, warga dunia rata-rata perlu mengurangi konsumsi daging sapi sebanyak 75%, daging babi sebanyak 90%, dan telur sebanyak 50%. Kekurangan asupan ini akan digantikan dengan menambah setidaknya 300% konsumsi kacang-kacangan dan biji-bijian.

Usulan pajak daging juga berlandaskan karena diperlukan sumber daya yang jauh lebih banyak untuk memproduksi daging daripada menanam makanan. Apalagi, produksi daging umumnya menyebabkan lebih banyak polusi.

Melansir News Hub, daging hanya menyediakan seperlima dari kalori dunia, tetapi mengambil 83% lahan pertanian dan menyumbang setengah dari emisi gas rumah kaca sektor pertanian.

Senada dengan Marco, seorang mahasiswa University of Otago Garrett Lentz menyebutkan beberapa konsumen memahami dan bahkan peduli atas dampak daging terhadap lingkungan. Namun, orang-orang itu tidak sepenuhnya memahami tingginya dampak konsumsi daging.

“Orang-orang mungkin cenderung tidak mengkonsumsi maupun tidak membeli daging jika harganya sudah cukup tinggi. Mereka akan mendapat manfaat kesehatan usai mengurangi konsumsi daging,” katanya. (kaw)