BERBAGI

JAKARTA – Sejumlah terobosan terus digulirkan agar pembiayaan pembangunan infrastruktur dari pasar modal mengalir deras, namun insentif investasi masih sepi peminat. Pemerintah akan mengevaluasi pajak penghasilan (PPh) atas dividen sebagai insentif agar investasi di pasar modal kian semarak. Berita tersebut mewarnai sejumlah media pagi ini, Kamis (7/9).

Evaluasi akan dilakukan terhadap sejumlah insentif fiskal seperti tax holidaytax allowance, kemudahan di kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri khusus (KI), insentif PPh ditanggung pemerintah, hingga pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan evaluasi dilakukan untuk melihat apa penyebab tidak lakunya sejumlah insentif fiskal tersebut. Kementerian Keuangan siap untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang berasal dari internal kementerian.

Berita lainnya mengenai pemerintah yang akan segera merampungkan penyesuaian tarif cukai hasil tembakau (CHT) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang akan mewaspadai beberapa faktor eksternal dalam menyusun rencana ekonomi 2018. Berikut ulasan ringkas beritanya:

  • Penyesuaian Tarif Cukai Rampung Bulan Ini

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan semakin cepat tarif baru diketok, waktu persiapan instrumen penyesuaiannya akan semakin panjang. Adapun faktor yang dipertimbangkan terkait rencana penyesuaian tarif tersebut yakni pertumbuhan alami, konsentrasi pengendalian konsumsi, tenaga kerja, dan petani tembakau. Kendati mengalami penyesuaian, pemerintah akan membedakan tarif berdasarkan golongan yang dibagi menjadi tiga yakni sigaret putih mesin, sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan.

  • Faktor Eksternal Jadi Pengaruh Utama Ekonomi Global 2018

Menteri Keuangan Sri Mulyani akan mewaspadai risiko global yang bisa memengaruhi kondisi perekonomian nasional dan pencapaian target pembangunan pada 2018. Menurutnya, risiko eksternal tersebut antara lain terkait perkembangan di Amerika Serikat dan China. Selain itu, risiko global lainnya pada 2018 terkait stagnasi harga komoditas, penguatan dolar AS, kondisi keamanan Korea Utara, proses Brexit dan ancaman terorisme.