BERBAGI

WASIOR – Realisasi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat jauh dari kata menggembirakan pada tahun lalu. Agar tak terulang, Pemda diminta realistis dalam susun target penerimaan PAD.

Hal tersebut dilontarkan oleh Wakil Ketua DPRD Teluk Wondama Arwin. Dia menilai proyeksi PAD yang dibuat pihak eksekutif terlalu ambisius sehingga realisasinya meleset jauh dari yang diharapkan.

“Potensinya memang besar, tapi juga harus realistis. Sesuaikan kemampuan, masih banyak yang harus kita perbaiki terkait layanan dan fasilitas lain untuk mendukung pendapatan,” katanya, Selasa (10/7).

Seperti yang diketahui, target penerimaan PAD Teluk Papua Barat Wondama 2017 hanya terealisasi sebesar 12,12%. Dari target penerimaan Rp58 miliar lebih, namun hingga 31 Desember 2017, pemerintah daerah hanya mampu dikumpulkan Rp7 miliar.

Realisasi penerimaan PAD yang rendah ini buah mandeknya seluruh komponen yang menyokong PAD. Mulai dari pajak daerah, retribusi  hingga pos penerimaan PAD lain milik pemda tidak optimal dalam menghasilkan setoran ke kas daerah.

“Pemkab Teluk Wondama harus menginventarisasi seluruh potensi pendapatan di daerah. Malai dari sektor usaha, pertanian, perikanan, maupun sektor lainnya,” ungkapnya dilansir Tabloid Jubi.

Data PAD tersebut dibuka Bupati Teluk Wondama Bernadus Imburi pada sidang paripurna pembahasan Raperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2017. Dia menyebutkan PAD Wondama turun 55,84% dari realisasi 2016 yang mencapai Rp16,02 miliar.

Ia merinci penerimaan PAD dalam struktur APBD 2017 meliputi pajak daerah dengan realisasi penerimaan sekitar Rp3,4 miliar dari target sebesar Rp6,3 miliar atau hanya memenuhi 54,12%.

Kemudian komponen retribusi daerah, realisasi penerimaan mencapai Rp596,6 juta dari target sebesar Rp2,2 miliar atau 26,91% dari target. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, realisasi penerimaan nihil atau 0% dari target sebesar Rp 7 miliar.

Serta lain-lain pendapatan daerah yang sah, realisasi penerimaan Rp3,04 miliar dari yang direncanakan sebesar Rp 42,8 miliar atau hanya memenuhi 7,11%. (Amu)