BERBAGI

NEW YORK – Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup variatif pada Kamis malam waktu AS, karena investor sedang mencermati rincian reformasi pajak yang diajukan oleh Partai Republik. Rencananya reformasi pajak ini akan menurunkan tarif pajak perusahaan menjadi 20%. Ini akan menghemat rencana tabungan pensiun.

Mengutip dari CNBC, Jumat (3/11/2017), indeks Dow Jones ditutup lebih tinggi 81,25 poin menjadi 23.516,26–sebuah rekor setelah sempat jatuh 84 poin. Indeks mencapai rekor tertinggi intraday, dimana saham Boeing memberi kontribusi terbesar.

Indeks S&P 500 ditutup sedikit lebih tinggi di level 2.579,85, berkat saham finansial yang naik 0,9%. Nasdaq ditutup jatuh menjadi 6.719,94, karena turunnya saham teknologi. Para investor teknologi kecewa dengan insentif pajak dana repatriasi sebesar 12%. Pasalnya banyak perusahaan teknologi besar memiliki sejumlah uang di luar AS.

Rancangan UU Reformasi Pajak yang dirilis Kamis waktu AS, secara permanen tarif pajak perusahaan akan diturunkan menjadi 20% dari sebelumnya 35%. Namun, ada pemecahan sejumlah pajak untuk perusahaan dan individu. Pajak penghasilan individual tertinggi sebesar 39,6%.

Prospek reformasi pajak belakangan ini telah membantu pasar saham mencapai rekor. Namun, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management, Phil Blancato mengatakan pasar masih belum yakin reformasi pajak akan selesai tahun ini. “Terlalu banyak anggota Senat yang tidak mendukung rencana ini,” katanya.

Selain pajak, investor juga mencermati penunjukan Gubernur Jerome Powell sebagai Ketua The Fed menggantikan Janet Yellen. Pencalonan Powell secara umum sesuai harapan pasar. “Powell adalah dovish Kursi Fed saat ini, Janet Yellen, adalah dovish. Saya pikir pasar memiliki harga di kursi Fed dovish,” kata CEO 50 Park Investments Adam Sarhan.